15 September 2026

Karya Siswa

MENULIS INGATAN By Aghnia R.M

Tim Jurnalistik 20 Juli 2026 17x dibaca
MENULIS INGATAN By Aghnia R.M

Cerpen : MENULIS INGATAN By Aghnia R.M

Malam ini, aku kembali bertamu pada meja tua yang telah lama menjadi saksi bisu bagi gugurnya kata-kata yang tak sempat menemui titiknya. Cahaya lampu kecil di sudut sana merembes perlahan, menyerupai nyawa renta yang masih berkeras ingin berguna meski raganya kian melemah. Aku menyadari, jika benda menua karena sang waktu, maka ingatan menua karena pasang surut perasaan yang tak menentu. Aku menulis bukan untuk mengabadikan sebuah keutuhan, melainkan karena sadar bahwa memori ini mulai retak dan kehilangan warnanya.
Di antara segala yang kabur, nama Sora tetap tegak seperti bayangan yang enggan luruh. Namun, Sora kini menjadi sosok yang lentur, terkadang tatapnya berubah, warna rambutnya berganti, bahkan senyumnya mendadak terasa asing. Ingatan rupanya menolak dipaku menjadi masa lalu. Ia hidup, bernapas, dan bersalin rupa mengikuti siapa diriku hari ini.
Keajaiban kecil terjadi di atas helai kertas. Saban kali jemariku memaksakan guratan “aku merindukanmu”, tintanya meluruh perlahan menjadi “aku memaafkanmu”. Pun saat aku mencoba mengukir “aku mencintaimu”, kalimat itu bergeser sendiri menjadi “aku membebaskanmu”. Seolah-olah kertas itu memiliki nurani, menolak untuk terus dipaksa mengulang perih yang sama. Aku pun mengerti, saat kita menulis tentang seseorang, kita sebenarnya sedang memotret diri kita sendiri yang pernah mewujud saat bersamanya.
Dalam sebuah mimpi yang hening, Sora hadir bukan sebagai hantu, melainkan sebagai perwujudan paling jujur dari ingatanku. Ia membaca catatanku dan berbisik, “Aku tidak pernah meminta diingat sebagai luka. Yang kau ingat bukan aku, melainkan dirimu di sebelahku”. Beban yang selama ini menghimpit dadaku terlepas tanpa suara. Sebuah pesan lama darinya kembali kutemukan, seolah telah menunggu bertahun-tahun hanya untuk berkata, “Jangan menulisku agar aku kembali, tulislah agar kau mengerti kenapa aku pernah ada”.
Ternyata, yang selama ini memberatkan langkahku bukanlah sosok Sora, melainkan diriku yang lama yang masih terpenjara di sampingnya. Mencintai seseorang tidak selalu berarti harus menyimpannya rapat-rapat. Kadang, bentuk cinta paling murni adalah membiarkan ingatan itu pulang dengan lembut pada tempat yang tidak lagi menyakitkan.
Aku menutup pena, bukan karena kata-kataku telah habis, tapi karena mengulang bukan lagi tujuanku. Sora hadir bukan untuk kembali menetap, melainkan untuk menunjukkan jalan pulang. Bukan kepadanya, melainkan kepada diriku sendiri. Saat keheningan datang menyergap, aku tahu Sora telah pulang. Dan aku, untuk pertama kalinya, akhirnya menyusul untuk melangkah menuju diriku yang baru.